Jakarta | Matanusa.net – Sejumlah laporan mengenai gangguan teknis pada mobil listrik Jaecoo J5 EV mencuat di Indonesia sepanjang 2026. Keluhan yang muncul beragam, mulai dari masalah kelistrikan, sistem kontrol stabilitas atau Electronic Stability Control (ESC), kerusakan pipa pendingin baterai, hingga gangguan sensor Battery Management System (BMS).
Rangkaian laporan tersebut menjadi perhatian di tengah meningkatnya penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Meski demikian, setiap kasus memiliki kronologi dan tingkat pembuktian yang berbeda sehingga perlu ditelaah berdasarkan hasil pemeriksaan teknis dan keterangan pihak terkait.
Berikut rangkuman empat laporan gangguan teknis Jaecoo J5 EV yang muncul sepanjang 2026.
1. Gangguan Kelistrikan pada Maret 2026
Keluhan pertama muncul pada Maret 2026, ketika seorang pemilik Jaecoo J5 EV mengungkapkan kendala berupa kendaraan yang tidak dapat dinyalakan akibat gangguan sistem kelistrikan.
Keluhan tersebut disampaikan melalui grup Facebook komunitas Jaecoo J5 EV Indonesia pada 23 Maret 2026.
Menanggapi laporan itu, Jaecoo Indonesia memberikan keterangan resmi pada 26 Maret 2026. Perusahaan menyatakan kendaraan telah diperiksa dan ditangani. Jaecoo juga menjelaskan bahwa kondisi aki 12 volt dapat memengaruhi aktivasi sistem kelistrikan utama kendaraan.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan sistem kelistrikan bertegangan rendah pada mobil listrik. Meski demikian, informasi yang tersedia belum membuktikan bahwa kendaraan mengalami kehilangan tenaga ketika sedang melaju atau kegagalan sistem keselamatan saat digunakan di jalan.
2. Keluhan ESC dan Respons Akselerator pada Mei 2026
Laporan berikutnya muncul pada Mei 2026 melalui forum Reddit. Seorang pengguna Jaecoo J5 EV mengeluhkan sistem Electronic Stability Control (ESC) yang aktif ketika kendaraan melewati tanjakan dan turunan di kawasan Lembang, Jawa Barat.
Pengguna tersebut juga melaporkan suara berdecit dari roda depan serta respons pedal akselerator yang sempat tidak muncul ketika kendaraan berbelok.
Dalam unggahannya, pengguna menyebut gejala berkurang setelah ESC dinonaktifkan. Namun, belum tersedia hasil pemeriksaan teknis yang dapat memastikan penyebab kejadian tersebut.
ESC merupakan sistem yang membantu menjaga kestabilan kendaraan dalam kondisi tertentu. Sementara itu, respons akselerator berkaitan langsung dengan kemampuan pengemudi mengatur laju kendaraan.
Karena itu, keluhan mengenai kedua sistem tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan menyeluruh. Namun, laporan seorang pengguna belum cukup untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi kerusakan sistem ESC atau kegagalan akselerasi secara umum pada model tersebut.
3. Pipa Pendingin Baterai Rusak pada Juli 2026
Kasus lainnya melibatkan pemilik Jaecoo J5 EV bernama Theodorus Herutomo yang mengalami gangguan ketika melakukan perjalanan menuju Semarang.
Ia mengaku mendengar bunyi “pletak” dari bagian bawah kendaraan. Setelah itu, indikator berbentuk kura-kura berwarna hijau menyala pada panel instrumen.
Kondisi kendaraan sempat kembali normal setelah dimatikan selama sekitar 40 menit. Namun, indikator tersebut kembali muncul keesokan harinya sehingga mobil dibawa ke bengkel resmi Jaecoo di Semarang.
Berdasarkan pemeriksaan pada 23 Juli 2026, Jaecoo Indonesia menemukan bekas benturan eksternal dan deformasi pada pelindung bawah baterai. Pemeriksaan juga mengungkap kerusakan pada pipa pendingin baterai yang menyebabkan kebocoran cairan pendingin sistem manajemen termal.
Dalam klarifikasi pada Agustus 2026, Jaecoo menyatakan kerusakan berkaitan dengan benturan dari luar kendaraan, bukan cacat produksi. Perbaikan diselesaikan pada 18 Agustus 2026 dengan biaya penggantian ditanggung melalui klaim asuransi.
Kasus ini memperlihatkan pentingnya memeriksa kondisi bagian bawah mobil listrik, terutama setelah kendaraan mengalami benturan. Sistem pendingin baterai berperan menjaga temperatur baterai agar tetap berada dalam rentang operasional yang ditentukan.
Meski demikian, tidak terdapat bukti dalam laporan tersebut yang menunjukkan bahwa insiden itu mengakibatkan kebakaran baterai.
4. Gangguan Sensor BMS pada Oktober 2026
Laporan terbaru pada Oktober 2026 berkaitan dengan gangguan sensor Battery Management System (BMS) pada Jaecoo J5 EV yang disebut telah digunakan selama sekitar empat bulan.
BMS merupakan sistem yang memantau dan mengelola kondisi baterai tegangan tinggi pada kendaraan listrik. Sistem ini membantu memantau sejumlah parameter baterai dan mendukung pengoperasian kendaraan sesuai batas yang ditentukan.
Gangguan pada sensor atau pembacaan BMS perlu ditelusuri karena informasi yang dihasilkan sistem tersebut dapat digunakan kendaraan untuk mengenali kondisi baterai, menampilkan peringatan, atau menerapkan pembatasan tertentu.
Namun, tingkat risiko gangguan sangat bergantung pada sensor yang bermasalah, gejala yang muncul, serta hasil diagnosis teknisi.
Rincian mengenai komponen yang mengalami gangguan, penyebab kerusakan, langkah perbaikan, dan tanggapan resmi produsen perlu dipastikan melalui informasi yang dapat diverifikasi. Tanpa data tersebut, laporan gangguan sensor BMS tidak dapat langsung disimpulkan sebagai kerusakan baterai utama ataupun bukti cacat produksi.
Pentingnya Pemeriksaan dan Verifikasi
Empat laporan tersebut memperlihatkan adanya beragam keluhan teknis yang pernah dialami atau disampaikan pengguna Jaecoo J5 EV di Indonesia sepanjang 2026. Persoalannya mencakup kelistrikan, keluhan terkait ESC dan akselerator, kerusakan sistem pendingin baterai akibat benturan, hingga gangguan sensor BMS.
Bagi pemilik kendaraan listrik, indikator peringatan yang menyala, perubahan respons kendaraan, atau gangguan kelistrikan sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan di bengkel resmi diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan langkah perbaikan yang sesuai.
Di sisi lain, laporan individual perlu dibedakan dari hasil pemeriksaan teknis yang telah dikonfirmasi. Jumlah laporan yang muncul juga belum dengan sendirinya menunjukkan seberapa sering masalah tersebut terjadi dibandingkan keseluruhan unit yang beredar.
Hingga 15 Oktober 2026, informasi yang dirangkum belum cukup untuk menyimpulkan adanya pola cacat produksi yang berlaku pada seluruh Jaecoo J5 EV di Indonesia.
Dengan demikian, evaluasi terhadap setiap kasus perlu mengacu pada kronologi, hasil diagnosis, dan penjelasan pihak terkait. Pendekatan tersebut penting agar konsumen memperoleh informasi yang berimbang, sekaligus memberi ruang bagi produsen untuk menjelaskan dan menindaklanjuti keluhan secara transparan.***