Sukabumi | Matanusa.net – Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas dan keamanan ikan untuk dikonsumsi. Pasalnya, konsumsi ikan tertentu yang mengandung histamin dalam kadar tinggi dapat memicu reaksi seperti gatal-gatal, wajah memerah, hingga gangguan pencernaan.
Edukasi tersebut disampaikan melalui informasi bertajuk “Makan Ikan, Kok Bisa Gatal?” yang mengajak masyarakat mengenali histamin, gejala yang ditimbulkan, serta cara mencegah peningkatannya melalui penanganan ikan yang tepat, Jumat (9/10/2026).
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi, Sri Padmoko, A.Pi., M.P., menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap keamanan pangan hasil perikanan, mulai dari proses penangkapan, penyimpanan, distribusi, hingga pengolahan.
Histamin merupakan senyawa yang dapat terbentuk pada ikan tertentu akibat aktivitas bakteri ketika ikan tidak ditangani dan disimpan pada suhu yang sesuai. Beberapa jenis ikan yang berisiko mengalami peningkatan histamin di antaranya tuna, tongkol, cakalang, dan tenggiri.
Gejala akibat keracunan histamin dapat berupa gatal-gatal, wajah memerah, sakit kepala, mual, muntah, hingga gangguan pencernaan. Kondisi tersebut dapat menyerupai reaksi alergi sehingga masyarakat perlu memahami penyebabnya.
“Penanganan ikan harus dilakukan dengan benar sejak awal. Waktu, suhu, dan terjaganya rantai dingin menjadi faktor penting untuk mencegah terbentuknya histamin,” ujarnya.
Ia menjelaskan, upaya pencegahan dapat dilakukan dengan segera mendinginkan ikan setelah ditangkap, menjaga suhu penyimpanan, memastikan rantai dingin tetap terjaga selama distribusi, serta menerapkan penanganan yang higienis.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa histamin yang telah terbentuk tidak dapat dihilangkan hanya dengan proses memasak. Oleh karena itu, menjaga kesegaran dan suhu ikan sejak awal menjadi langkah penting untuk melindungi konsumen.
Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi mengimbau masyarakat agar lebih cermat dalam memilih dan mengolah ikan serta memastikan ikan ditangani dengan baik sebelum dikonsumsi. Apabila mengalami gejala berat, seperti sesak napas atau pembengkakan pada wajah dan tenggorokan setelah makan ikan, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis.
“Melalui edukasi ini, kami berharap masyarakat semakin memahami pentingnya penanganan ikan yang tepat agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga. Dengan begitu, ikan dapat terus menjadi sumber protein bergizi yang aman bagi keluarga,” pungkasnya.





