Disdagin Sukabumi Perkuat Ekosistem Kopi Lokal Lewat Festival Kopi Sukabumi II

Foto: Disdagin Kabupaten Sukabumi.

Sukabumi | Matanusa.net – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Sukabumi terus mendorong penguatan ekosistem perkopian lokal melalui Festival Kopi Sukabumi II yang digelar di Bumi Mandiri Center, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, pada Kamis (3/9/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Sukabumi ke-156 tersebut menjadi momentum bagi Disdagin untuk memperkenalkan potensi kopi Sukabumi sekaligus memperluas ruang promosi bagi industri kecil dan menengah (IKM) pengolah kopi.

Kepala Disdagin Kabupaten Sukabumi, Dani Tarsoni, mengatakan festival kopi tidak sekadar menjadi ajang pameran produk. Berbagai kegiatan edukatif dan kompetitif disiapkan untuk meningkatkan pengetahuan, kualitas, serta daya saing pelaku usaha kopi.

“Di dalam festival ini terdapat talkshow dan workshop terkait kopi. Selain itu, terdapat pula lomba cupping kopi Arabika fullwash, Arabika natural, dan natural,” ujar Dani Tarsoni.

Menurutnya, keterlibatan para pelaku IKM dari berbagai wilayah menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem perkopian yang lebih kuat di Kabupaten Sukabumi.

“Ini merupakan langkah bersama untuk membangun ekosistem perkopian di Sukabumi. Makanya kami menampilkan juri dan narasumber ahli perkopian,” terangnya.

Dani menambahkan, Festival Kopi Sukabumi II berlangsung selama dua hari, yakni 3-4 September 2026. Sekitar 30 IKM kopi turut ambil bagian dengan membawa dan menyajikan berbagai produk kopi unggulan dari wilayah masing-masing.

“Ada sekitar 30 IKM yang terlibat di acara yang merupakan rangkaian dari Hari Jadi Kabupaten Sukabumi ke-156 tahun ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Sukabumi H. Asep Japar menyampaikan dukungannya terhadap upaya pengembangan kopi lokal. Ia ingin popularitas kopi Sukabumi yang sejak zaman kolonial dikenal dengan sebutan “Black Gold” atau emas hitam kembali dikukuhkan.

“Sejarah mencatat, Sukabumi memiliki jejak historis di industri kopi. Biji kopi Sukabumi dikenal luas sebagai black gold. Ini merupakan warisan dan tolok ukur mutu yang tinggi,” ujar Asep Japar.

Bupati juga melihat peluang besar dalam pengembangan komoditas kopi karena Kabupaten Sukabumi memiliki lahan perkebunan yang tersebar di sejumlah wilayah, seperti Gegerbitung, Sukaraja, Kadudampit, hingga Kabandungan.

Ia mendorong agar lahan perkebunan yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikerjasamakan dengan petani sehingga produksi kopi Sukabumi semakin berkembang.

“Kabupaten Sukabumi memiliki lahan perkebunan yang terbengkalai, ini bisa dikerjasamakan dengan petani kopi. Sehingga produksi kopi di Sukabumi semakin melimpah,” ucapnya.

Bupati juga mengajak perangkat daerah dan BUMD untuk ikut mendukung petani kopi dengan membeli dan mengonsumsi produk kopi asli Sukabumi.

“Perangkat daerah hingga BUMD, marilah kita beli dan konsumsi kopi asli Sukabumi. Baik untuk konsumsi pribadi, rapat, ataupun jamuan tamu. Kita dukung petani kita dengan membeli dan mengonsumsinya,” pungkasnya.

Pos terkait