Sukabumi Kota | Matanusa.net – Wakil Ketua Forum Kota Sukabumi Sehat, Kia Florita, menegaskan bahwa inovasi dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan Kota Sukabumi yang sehat, bersih, dan progresif.
Pesan tersebut ia sampaikan saat menghadiri kegiatan Pembinaan Forum Kecamatan Sehat di Kecamatan Warudoyong, pada Rabu (24/9/2025), yang sekaligus menjadi bagian dari persiapan verifikasi Open Defecation Free (ODF) tingkat kota.
Acara tersebut turut dihadiri Tim Pembina Kota Sukabumi Sehat, Camat Warudoyong beserta jajaran, Ketua Pokja Forum Kota Sehat, tiga kepala puskesmas, serta perwakilan Puskesmas Warudoyong.
Menurut Kia, terdapat sembilan tantangan utama yang menjadi fokus penilaian Sekretariat Kota Sehat Sukabumi (SKSS). Meski program-program Kota Sehat kerap diapresiasi pemerintah provinsi, ia menekankan bahwa implementasi di lapangan harus terus ditingkatkan.
“Kita sudah memiliki banyak program yang berjalan, salah satunya optimalisasi posyandu. Namun, keberhasilan ini butuh langkah nyata dan kreativitas agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Sebagai contoh inovasi, Kia menyebut program pemberian dua butir telur per hari bagi ibu hamil untuk mencegah stunting, serta edukasi pranikah bagi calon pengantin. Ia menegaskan bahwa stunting tidak hanya disebabkan faktor ekonomi, tetapi juga pengetahuan gizi dan pola hidup.
Selain itu, persoalan ODF juga masih menjadi perhatian serius. Kia mengungkapkan bahwa kendala utama pembangunan septik tank komunal adalah keterbatasan lahan. “Padatnya permukiman dan ketiadaan lahan hibah membuat masalah ini sulit diatasi. Karena itu, kita harus mengajak masyarakat lebih peduli pada kebersihan lingkungan,” ujarnya.
Kia turut mengapresiasi gerakan kebersihan di masyarakat, seperti pembersihan sampah di Cikundul maupun aktivitas komunitas Restoe Boemi yang melibatkan pelajar hingga mahasiswa tanpa anggaran dan imbalan.
Dalam kesempatan itu, Kia juga menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan di sekolah. Ia menekankan perlunya penilaian sekolah terbersih, penyediaan kantin sehat, serta WC bersih sebagai bagian dari pembelajaran cinta lingkungan sejak dini.
Terkait sampah, Kia mengingatkan bahwa Kota Sukabumi menghasilkan sekitar 200 ton per hari. Ia mendorong masyarakat untuk melakukan pengelolaan sederhana, seperti membuat lubang biofori, memelihara maggot, memanfaatkan sampah organik, dan menjual sampah non-organik.
“Kalau kita tidak turun langsung, masalah sampah tidak akan bisa diatasi. Pemerintah sudah berusaha, tetapi tanpa kesadaran masyarakat, progres akan sulit tercapai,” tegasnya.
Kia menambahkan bahwa Pemerintah Kota Sukabumi tengah menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi terkait lahan pengolahan sampah. Namun, ia kembali menekankan pentingnya komitmen bersama.
“Mari kita cintai kota kita sendiri. Dengan kerja sama dan kolaborasi, kita bisa menjadikan Sukabumi sebagai kota yang sehat, bersih, dan progresif,” pungkasnya.





