Dorong Ekonomi Inklusif, Dkukm Sukabumi Libatkan UMKM dan Koperasi

Foto: Dkukm Kabupaten Sukabumi.

Sukabumi | Matanusa.net – Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (DKUKM) Kabupaten Sukabumi terus mendorong penguatan ekonomi kerakyatan berbasis koperasi dan UMKM. Hal ini ditegaskan langsung oleh Kepala DKUKM Kabupaten Sukabumi, Sri Hastuty Harahap, dalam dialog bersama pelaku lapangan, pada Minggu (26/4/2026).

Dalam pembahasan terkait kerja sama suplai kebutuhan untuk SPPG, Sri Hastuty menyoroti pentingnya keterlibatan koperasi sebagai pintu utama distribusi, termasuk dalam skema dropship bagi pelaku UMKM. Ia mempertanyakan apakah peluang tersebut juga membuka ruang bagi pihak di luar koperasi.

Menanggapi hal itu, perwakilan lapangan, Lisnawati, menjelaskan bahwa saat ini keterlibatan masih difokuskan pada UMKM yang telah resmi tergabung dalam koperasi. Para pelaku UMKM bahkan sudah menjalin kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU), dengan mekanisme wajib menjadi anggota koperasi terlebih dahulu sebelum bisa menyuplai kebutuhan ke SPPG.

“UMKM sudah full, mereka sudah MoU dengan kami. Jadi sebelum masuk ke SPPG, harus daftar dulu jadi anggota koperasi (KDMP), baru kemudian bisa terlibat sesuai kebutuhan,” jelas Lisnawati.

Meski demikian, Sri Hastuty menilai potensi sektor lain seperti petani dan peternak masih sangat besar dan perlu segera dioptimalkan. Ia mencontohkan wilayah Gegerbitung yang memiliki produksi pertanian melimpah, namun belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem koperasi.

“Kalau dapur itu kan butuh bahan mentah. Harusnya petani juga bisa ditarik menjadi anggota koperasi agar rantai pasok ini kuat dan berkelanjutan,” tegasnya.

Lisnawati mengakui, hingga saat ini keterlibatan petani masih terkendala minimnya pemahaman tentang koperasi. Namun, pendekatan edukatif perlahan mulai membuahkan hasil, di mana beberapa pelaku usaha yang awalnya enggan kini mulai bergabung setelah memahami manfaat koperasi, termasuk akses permodalan dan pembagian keuntungan.

Sri Hastuty pun menegaskan bahwa koperasi bukan sekadar wadah usaha, tetapi juga sarana edukasi ekonomi bagi masyarakat. Pendekatan yang dilakukan, menurutnya, adalah melalui praktik langsung atau learning by doing, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaat nyata menjadi anggota koperasi.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa sinergi antara program SPPG, koperasi desa (Kopdes), UMKM, petani, dan peternak harus berjalan beriringan agar roda ekonomi di daerah benar-benar bergerak.

“Harapannya ekonomi di wilayah seperti Gegerbitung ini bisa hidup. Semua sektor harus bergerak bersama. Ini yang kita dorong sebagai ekonomi inklusif, yang memberi peluang dan manfaat bagi semua,” pungkasnya.

Pos terkait