Sukabumi | Matanusa.net – Dalam upaya mendukung program nasional percepatan penurunan stunting, Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi menyalurkan paket bantuan pangan bergizi berupa ikan mas segar, ikan nila segar, serta olahan abon ikan kepada keluarga yang berisiko stunting.
Program ini dilaksanakan secara bertahap sejak Desember 2024 di 55 desa yang menjadi lokus prioritas penanganan stunting. Setiap desa menerima jatah paket untuk 80 hingga 90 keluarga penerima manfaat.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat dengan memanfaatkan potensi perikanan lokal.
“Ikan adalah sumber protein hewani dengan kandungan gizi yang sangat baik untuk tumbuh kembang anak. Melalui program ini, kami berharap kebutuhan gizi ibu hamil dan anak-anak di Kabupaten Sukabumi dapat terpenuhi sehingga mampu menekan angka stunting,” ujarnya, saat dihubungi pada Senin (8/9/2025).
Jenis dan Mekanisme Bantuan
Bantuan diberikan dalam tiga bentuk, yakni:
- Abon ikan (3 pieces/paket)
- Ikan nila segar (2 kg/paket)
- Ikan mas segar (2 kg/paket)
Sebanyak 18 desa menerima abon ikan, 18 desa mendapatkan ikan nila, dan 19 desa memperoleh ikan mas. Penentuan jenis bantuan didasarkan pada ketersediaan sumber ikan di masing-masing wilayah.
Selain membantu pemenuhan gizi, program ini juga berdampak positif pada pelaku usaha perikanan lokal, mulai dari pengolah abon ikan hingga pembudidaya ikan nila dan ikan mas.
Kendala Distribusi
Distribusi bantuan dilakukan bersama pemerintah desa dan kader posyandu. Namun, hujan deras yang memicu longsor dan banjir di Kecamatan Jampangkulon, Cidolog, Surade, dan Lengkong sempat menghambat pengiriman. Gangguan listrik dan komunikasi di wilayah Surade juga memperlambat proses distribusi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinas Perikanan menambah waktu pelaksanaan agar bantuan tetap tersalurkan secara merata.
Apresiasi dan Dampak
Pemerintah desa serta masyarakat penerima manfaat menyambut baik program ini dan menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah daerah.
Data terbaru Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 yang dirilis pada Mei 2025 menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Sukabumi menurun dari 27% (2023) menjadi 20,5% (2024). Meski masih di atas target nasional 14%, capaian ini menjadi indikator positif dari intervensi yang dilakukan.
Kepala Dinas Perikanan menegaskan, stunting adalah masalah serius karena berdampak pada kualitas generasi mendatang, baik dari sisi kesehatan, kecerdasan, maupun produktivitas. Oleh karena itu, Pemkab Sukabumi akan terus memperkuat sinergi lintas sektor untuk menekan angka stunting dan mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.





