Jakarta | Matanusa.net – Proses pencarian korban kapal Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa masih berlangsung. Tim Basarnas Special Group (BSG) terus dikerahkan untuk menyisir bangkai kapal yang berada di kedalaman laut.
Dalam proses pencarian tersebut, sejumlah penyelam BSG melakukan penyelaman ke bagian bangkai kapal. Petugas bahkan harus memecahkan kaca jendela kapal untuk membuka akses menuju sejumlah bagian yang menjadi titik pencarian korban.
Aktivitas penyelaman itu turut direkam menggunakan kamera yang terpasang pada perlengkapan penyelam. Rekaman tersebut kemudian dibagikan melalui media sosial resmi Basarnas maupun akun sejumlah personel.
Namun, dokumentasi proses evakuasi tersebut sempat mendapat sorotan dari warganet. Salah satu komentar mempertanyakan petugas yang dinilai masih sempat membuat konten ketika operasi pencarian korban sedang berlangsung.
Menanggapi hal itu, anggota BSG, Pras, memberikan penjelasan melalui akun Instagram @egaprasutiaa.
Ia mengatakan, dokumentasi tersebut bukan untuk mengesampingkan tugas utama, melainkan menjadi bagian dari penyampaian laporan kinerja Basarnas kepada masyarakat.
“Basarnas itu instansi pemerintah dan pegawainya itu ASN. Nah, gaji kami ini berasal dari APBN,” ujar Pras, dikutip Minggu (27/9/2026).
Ia kemudian menjelaskan bahwa salah satu sumber APBN berasal dari penerimaan perpajakan. Menurutnya, masyarakat memiliki hak untuk mengetahui pelaksanaan tugas para petugas Basarnas.
“Masnya kan bayar pajak, berhak dong melihat kinerja kami para ASN Basarnas yang digaji dari APBN,” imbuhnya.
Kamera Dipasang di Kepala Penyelam
Dokumentasi tersebut, menurut penjelasan anggota Basarnas lainnya, tidak mengganggu proses evakuasi.
Kamera digunakan dengan cara dipasang pada bagian kepala penyelam sehingga petugas tetap dapat menggunakan kedua tangannya untuk menjalankan tugas.
“Video diambil dari kamera yang terpasang di kepala penyelam dan tidak mengganggu kinerja penyelam,” tulis anggota Basarnas melalui akun @io_**a.
Dalam penyelaman, para personel juga bekerja secara bergantian. Selain mencari dan mengevakuasi korban, penyelam harus saling memastikan kondisi rekannya tetap aman selama berada di bawah air.
“Jadi itu secara bergantian, kedua penyelam saling bekerja sama bukan hanya bertugas menyelam,” tuturnya.
Kondisi di lokasi pencarian juga memiliki sejumlah risiko. Penyelam harus menghadapi arus laut serta risiko penyelaman seperti dekompresi, trauma hingga hipotermia.
Karena itu, proses tersebut dilakukan oleh personel yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus untuk menjalankan operasi penyelaman.
71 Korban Masih Dicari
Sementara itu, operasi pencarian korban kapal Virgo Transport 8 masih diperpanjang. Hingga Sabtu (26/9/2026) pukul 18.00 Wita, tercatat 172 orang telah ditemukan dari total 243 orang yang tercantum dalam manifes.
Dari 172 korban tersebut, sebanyak 108 orang ditemukan dalam keadaan selamat. Sedangkan 64 orang lainnya ditemukan meninggal dunia.
Masih terdapat 71 korban yang belum ditemukan. Basarnas kemudian kembali memperpanjang operasi pencarian dan evakuasi selama tujuh hari untuk melanjutkan penyisiran di lokasi kejadian.
Tim SAR gabungan masih melakukan upaya pencarian dengan mempertimbangkan kondisi bangkai kapal serta keselamatan personel penyelam.
Perkembangan operasi pencarian juga terus disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai kanal informasi Basarnas sebagai bentuk keterbukaan mengenai proses penanganan kecelakaan kapal tersebut, ujarnya.
Pencarian terhadap 71 korban yang masih belum ditemukan akan dilanjutkan selama masa perpanjangan operasi,” pungkasnya.