Salah Paham Terurai, Penggarap Parakansalak Kini Bernafas Lega: Polemik Lahan Berakhir Damai

Foto: Dok. Desa Parakansalak.

Sukabumi | Matanusa.net – Suasana haru bercampur lega terasa di wajah para penggarap lahan Desa Parakansalak, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, setelah polemik pencabutan tanaman di lahan desa akhirnya menemukan titik terang. Persoalan yang sempat menimbulkan kekecewaan itu kini dipastikan hanya akibat mis-komunikasi, dan telah diselesaikan melalui dialog terbuka antara penggarap, pemerintah desa, dan pihak kecamatan.

Masalah bermula ketika beberapa tanaman cabai dan tanaman produktif lain milik penggarap dicabut saat lahan desa akan digunakan untuk program baru. Padahal, tanaman tersebut baru berusia sekitar dua bulan dan masih dalam tahap perawatan. Para penggarap pun sempat terkejut karena pencabutan dilakukan sebelum adanya pemberitahuan langsung.

Salah satu penggarap, Dede Supriatman (75), mengaku awalnya merasa kecewa karena tanaman yang ia rawat ditaksir bernilai cukup besar. Namun setelah dilakukan musyawarah, suasana berubah menjadi lebih tenang.

“Alhamdulillah, ternyata hanya salah paham. Semua sudah dijelaskan, dan saya sekarang merasa lega,” ujar Dede saat ditemui di gubuk tempat ia biasa beristirahat, serta di selesaikan di aula Kantor Kecamatan, pada Selasa (25/11/2025).

Dalam musyawarah tersebut, Kepala Desa Parakansalak, Rini Mulyani, A.Md., memberikan penjelasan langsung kepada selaku penggarap. Ia menegaskan bahwa tidak ada unsur kesengajaan untuk merugikan masyarakat, dan peristiwa tersebut murni akibat kurangnya sinkronisasi informasi antara pihak terkait.

“Kami tidak berniat merugikan warga. Ini hanya mis-komunikasi. Yang terpenting sekarang semua sudah jelas dan bisa diselesaikan dengan baik,” ungkap Rini Mulyani.

Menanggapi situasi tersebut, Camat Parakansalak, Rukman Taufik, S.Ag., yang turut memantau jalannya penyelesaian, memberikan apresiasi kepada kedua pihak karena memilih jalan musyawarah dan menghindari konflik yang lebih besar.

“Kami dari pihak kecamatan bersyukur persoalan ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Kesalahpahaman seperti ini harus segera diluruskan agar tidak berkembang menjadi masalah yang merugikan masyarakat,” ujar Camat Rukman Taufik.

Beliau juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara desa, penggarap, dan pihak lain yang berkepentingan dalam pengelolaan lahan desa.

“Ke depan, kami berharap komunikasi dapat lebih diperkuat. Setiap langkah harus disampaikan dengan jelas kepada masyarakat, terutama para penggarap yang masih aktif mengelola lahan,” tambahnya.

Kini, penggarap dan pihak desa telah mencapai kesepakatan untuk melanjutkan segala proses secara tertib, terbuka, dan saling menghargai. Polemik yang sempat memanas ini akhirnya berakhir damai dan justru memperkuat hubungan antara masyarakat dan pemerintah desa,” pungkasnya.

Dengan berakhirnya persoalan, para penggarap dapat kembali beraktivitas seperti biasa, sementara Desa Parakansalak dan Kecamatan Parakansalak berkomitmen memperbaiki koordinasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Pos terkait