Warga Lingkar Gunung Salak Datangi Perusahaan Panas Bumi, Pertanyakan Gempa dan Aktivitas Drilling

Suasana dialog warga lingkar Gunung Salak bersama pihak perusahaan panas bumi, membahas isu gempa dan aktivitas pengeboran. (Foto: Istimewa).

Sukabumi | Matanusa.net – Suasana di kaki Gunung Salak pagi itu tampak berbeda. Ratusan warga dari tiga kecamatan sekitar proyek panas bumi datang berbondong-bondong menuju area perusahaan. Bukan untuk melakukan aksi unjuk rasa, melainkan menghadiri forum silaturahmi dan dialog terbuka guna mencari jawaban atas keresahan mereka setelah gempa yang mengguncang sehari sebelumnya.

Gempa dengan Magnitudo 4,2 yang terjadi pada Minggu (21/9/2025) pukul 14.35 WIB membuat warga panik dan sebagian masih trauma. “Rumah saya sampai berguncang cukup keras, anak-anak menjerit ketakutan,” cerita seorang ibu rumah tangga yang hadir di lokasi. Kekhawatiran semakin bertambah karena saat ini kegiatan pengeboran (drilling) panas bumi memang tengah berlangsung di sekitar wilayah mereka.

Menurut catatan BMKG, pusat gempa berada di darat, sekitar 12 kilometer barat daya Kabupaten Sukabumi dengan kedalaman 5 kilometer. BMKG menegaskan bahwa peristiwa tersebut murni gempa tektonik dangkal, bukan akibat aktivitas panas bumi. Namun, penjelasan resmi itu belum sepenuhnya menenangkan warga, sehingga pertemuan langsung dengan pihak perusahaan dianggap penting.

Dialog Kondusif, Polisi dan Camat Dampingi Warga

Kapolsek Kalapanunggal, AKP Damar Gunawan, hadir untuk memastikan situasi tetap kondusif. “Kehadiran warga ini wajar. Mereka hanya ingin mendapat kepastian. Perusahaan juga siap terbuka bahkan akan menghadirkan BMKG agar masyarakat mendapat penjelasan ilmiah. Alhamdulillah, sejauh ini suasana tetap tenang,” ujarnya.

Camat Kabandungan yang ikut mendampingi menegaskan peran Forkopimcam adalah menjaga komunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. “Kami berdiri untuk kepentingan warga, sekaligus menjaga agar kondisi sosial tetap seimbang,” katanya, pada Senin (22/9/2025).

Suara Warga: Bukan Demo, Tapi Mencari Jawaban

Koordinator warga, Iwan Rustandi alias Lebor, menegaskan bahwa kedatangan mereka bukanlah demonstrasi. “Kami tidak datang untuk ribut. Kami hanya ingin jawaban jelas tentang gempa kemarin yang menimbulkan trauma, apalagi sekarang sedang ada drilling. Ini hal wajar jika menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Azhari, tokoh masyarakat yang turut berbicara dalam forum, menyampaikan apresiasi. “Kami berterima kasih kepada perusahaan karena bersedia membuka ruang dialog. Intinya kami ingin tahu apakah kegiatan Star Energy ada hubungannya dengan gempa beberapa hari lalu,” ujarnya.

Pihak Perusahaan Jelaskan Teknis Pengeboran

Dalam forum tersebut, H. Asrul dari tim teknis menjelaskan bahwa pengeboran saat ini dilakukan di sumur Awi 3, Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Bogor, dengan kedalaman baru sekitar 1 kilometer.

Penjelasan lebih rinci diberikan oleh H. Ani Widodo selaku Tim Geologi Star Energy. Ia menegaskan gempa tidak ada kaitannya dengan pengeboran. “Pengeboran berdiameter 40 inci dengan kedalaman baru 1 kilometer tidak mungkin menyebabkan guncangan yang terasa hingga wilayah luas. Selama 30 tahun kami beroperasi di Salak, kami sering mengalami gempa, dan itu murni fenomena alam. Kalau seandainya kegiatan kami yang memicu gempa, justru kami yang akan terkena dampak pertama. Kami tentu tidak akan tinggal diam bila ada potensi bahaya,” jelasnya.

Langkah Lanjutan: Pertemuan dengan BMKG

Sebagai bentuk tanggung jawab, perusahaan menyatakan akan berkoordinasi dengan BMKG untuk mengadakan pertemuan resmi bersama warga. Tujuannya agar masyarakat bisa mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap, transparan, dan dapat mengurangi polemik di lapangan.

Pos terkait