Ma Tu’ah Menangis Bahagia, Kades Hendra Suhendra Hadirkan Rumah Layak Huni di Kalapanunggal

Dari rumah reyot ke rumah layak huni. Air mata bahagia Ma Tu’ah jadi bukti, kepedulian kades hadirkan harapan baru. (Foto: Istimewa).

Sukabumi | Matanusa.net – Di sebuah sudut Kampung Pamubusan, Desa Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, suasana haru begitu terasa. Ma Tu’ah, perempuan paruh baya yang kesehariannya dikenal sederhana, tak mampu menahan tangis bahagia. Setelah bertahun-tahun tinggal di rumah reyot berdinding bilik dan berlantai tanah, kini ia akhirnya bisa menikmati hunian yang lebih layak berkat Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).

Rumah barunya memang tidak megah, hanya semi permanen dengan dinding tembok sederhana. Namun bagi Ma Tu’ah, inilah hadiah terbesar di penghujung usianya. Sebuah kenyamanan yang dulu hanya ia bayangkan dalam doa.

“Ema mah moal nyangka bakal tiasa gaduh imah sapertos kieu. Ngan ukur tiasa ngadoakeun, mugi Pak Kades panjang umur, sehat, sareng seueur rejekina,” ucap Ma Tu’ah dengan suara bergetar, sesekali menutupi wajah dengan kerudungnya karena haru, pada Sabtu (20/9/2025),

Di sampingnya, Kepala Desa Kalapanunggal, Hendra Suhendra, berdiri sambil menatap penuh empati. Ia pun tak kuasa menahan rasa terenyuh ketika mendengar doa tulus itu. Bagi Hendra, keberhasilan membangun desa tidak diukur dari banyaknya bangunan yang berdiri, melainkan dari kebahagiaan warganya.

“Doa dari Ema Tu’ah adalah kekuatan bagi saya untuk terus berbuat. Semoga saya selalu diberi kesehatan dan kemampuan agar bisa terus mengabdi, membawa Kalapanunggal lebih baik dan sejahtera bersama masyarakatnya,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Warga yang hadir pun ikut larut dalam suasana emosional. Beberapa di antaranya tampak menepuk lembut pundak Ma Tu’ah sebagai tanda ikut berbahagia. Kehangatan itu menjelma menjadi bukti nyata bahwa pembangunan bukan hanya soal fisik, melainkan tentang menghadirkan harapan dan menumbuhkan ikatan kemanusiaan.

Kini, setiap sudut rumah Ma Tu’ah bukan lagi sekadar tempat berteduh, tetapi simbol perubahan dan perhatian pemerintah desa terhadap warganya. Rutilahu telah menjelma menjadi jembatan yang menyatukan doa, kerja nyata, dan harapan baru di Kalapanunggal,” pungkasnya.

Pos terkait