Nagekeo, Ntt | Matanusa.net – Pemulihan pascagempa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya membutuhkan perbaikan rumah dan fasilitas umum. Kondisi psikologis masyarakat terdampak juga menjadi perhatian, mengingat sebagian warga masih mengalami kecemasan ketika merasakan getaran, meski bencana telah berlalu selama tujuh pekan.
Merespons kondisi tersebut, Komunitas Sobat Sehat bersama Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (ILUNI FKM UI) menggelar pendampingan psikososial sekaligus menyalurkan bantuan kebutuhan dasar bagi penyintas gempa di Desa Waekokak, Kabupaten Nagekeo, Jumat (2/10/2026).
Kegiatan bertajuk “Bantu Sehat: Pulihkan Asa Nagekeo” tersebut dilaksanakan bersama Pemerintah Desa Waekokak, Puskesmas Kota, dan Puskesmas Pembantu Waekokak, dengan dukungan ILUNI FKM UI dan Priority.
Pendampingan menyasar warga dewasa dan anak-anak dengan tujuan membantu memulihkan rasa aman serta mengurangi dampak psikologis yang muncul setelah bencana.
Pendampingan Psikososial untuk Pulihkan Rasa Aman
Founder Komunitas Sobat Sehat sekaligus Sekretaris Jenderal ILUNI FKM UI, Sri Gusni Febriasari, mengatakan pemulihan pascabencana perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kondisi fisik dan psikologis masyarakat.
Menurutnya, pengalaman menghadapi bencana dapat meninggalkan rasa takut dan kecemasan, khususnya pada anak-anak. Karena itu, pendampingan psikososial menjadi bagian penting agar penyintas dapat kembali membangun rasa aman dan menjalani aktivitas sehari-hari.
“Rumah bisa dibangun kembali, tetapi rasa aman juga harus dipulihkan, terutama bagi anak-anak yang akan membawa pengalaman ini hingga dewasa,” ujar Sri Gusni.
Anak-anak Diberi Ruang Aman untuk Mengekspresikan Diri
Pendampingan psikososial dilakukan melalui aktivitas kelompok bagi orang dewasa serta penyediaan ruang bermain yang aman bagi anak-anak.
Warga mendapatkan edukasi mengenai berbagai reaksi psikologis yang dapat muncul setelah bencana, sekaligus latihan sederhana untuk membantu mengelola kecemasan.
Sementara itu, anak-anak diajak mengikuti kegiatan menggambar, mendengarkan dongeng, dan bermain. Aktivitas tersebut menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengekspresikan pengalaman maupun perasaan yang mungkin sulit mereka sampaikan secara langsung.
Psikolog klinis Siti Kholidiyatus menjelaskan, anak-anak tidak selalu mampu mengungkapkan rasa takut yang mereka alami secara verbal. Karena itu, pendekatan melalui permainan dan kreativitas dapat membantu anak mengekspresikan emosinya.
“Anak-anak sering kali menyimpan rasa takutnya dalam diam. Lewat gambar dan permainan, mereka bisa mengungkapkan apa yang sulit diucapkan,” kata Siti.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pemulihan. Hal itu dapat dilakukan dengan mendengarkan anak, menjaga rutinitas sehari-hari, serta memberikan rasa aman melalui kehadiran dan perhatian.
Salurkan Bantuan dan Perkuat Layanan Kesehatan
Selain pendampingan psikososial, tim Sobat Sehat juga menyalurkan berbagai bantuan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak.
Bantuan tersebut meliputi bahan pangan, air mineral, alas tidur, perlengkapan kebersihan dan kesehatan, serta alat tulis untuk anak-anak.
Upaya pemulihan juga dirancang agar dapat berlanjut setelah kegiatan lapangan selesai. Tim berkoordinasi dengan pemerintah desa dan puskesmas untuk mengidentifikasi warga maupun anak-anak yang membutuhkan penanganan lebih lanjut sehingga dapat dirujuk ke layanan kesehatan pemerintah.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan pendampingan sekaligus memperkuat peran fasilitas kesehatan primer dalam menangani dampak pascabencana.
Sri Gusni menegaskan, keterlibatan masyarakat dan komunitas lokal menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.
Menurutnya, masyarakat setempat merupakan pihak yang paling awal memberikan pertolongan ketika bencana terjadi sekaligus pihak yang akan terus berada di wilayah tersebut selama proses pemulihan.
“Warga dan komunitas adalah pihak pertama yang hadir saat bencana, dan pihak yang paling lama tinggal untuk memulihkannya. Karena itu, pertahanan kesehatan di wilayah rawan bencana harus dibangun dari bawah,” pungkas Sri Gusni.