Sukabumi | Matanusa.net – Seren Taun ke-658 Kasepuhan Gelar Alam bukan sekadar ritual adat yang digelar setiap tahun. Di balik rangkaian tradisinya, terdapat nilai sejarah, kearifan lokal dan identitas budaya masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal tersebut menjadi perhatian Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi dalam mendukung keberlangsungan Seren Taun Kasepuhan Gelar Alam di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok.
Kepala Disbudpora Kabupaten Sukabumi, Drs. Yudi Mulyadi, M.Si., menempatkan pelestarian tradisi adat sebagai bagian penting dalam menjaga kekayaan budaya Kabupaten Sukabumi.
Menurut Yudi, keberadaan Seren Taun yang telah mencapai 658 kali pelaksanaan menunjukkan bahwa masyarakat Kasepuhan Gelar Alam memiliki keteguhan dalam mempertahankan warisan leluhur. Tradisi tersebut juga menjadi ruang penting untuk mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
“Seren Taun bukan hanya sebuah kegiatan seremonial, tetapi di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya, kearifan lokal dan pesan dari para leluhur yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Yudi Mulyadi.
Ia menegaskan, Disbudpora Kabupaten Sukabumi akan terus memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya lokal. Menurutnya, keberadaan komunitas adat seperti Kasepuhan Gelar Alam memiliki posisi penting dalam memperkaya khazanah kebudayaan daerah.
Yudi juga melihat Seren Taun memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari penguatan destinasi wisata budaya Kabupaten Sukabumi. Namun, pengembangan tersebut tetap harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap nilai dan tradisi adat yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
“Yang paling penting adalah bagaimana budaya ini tetap hidup di tengah masyarakat. Pengembangan wisata budaya harus tetap menghormati nilai adat dan tidak menghilangkan identitas masyarakat Kasepuhan,” ujarnya.
Puncak Seren Taun ke-658 Kasepuhan Gelar Alam digelar Minggu (4/10/2026) dengan mengusung tema “Nyoreang Alam Katukang, Nyawang Alam Nu Bakal Datang”.
Bupati Sukabumi H. Asep Japar bersama Wakil Bupati H. Andreas, unsur Forkopimda dan Forkopimcam turut hadir dalam perhelatan tersebut.
Beragam tradisi khas Kasepuhan mewarnai puncak acara, mulai dari prosesi Angkat Ampih Pare ka Leuit, sarasehan bersama Baris Olot Kasepuhan, hingga pertunjukan Dongdang, Dog-dog Lojor, Debus, Lisung, Rengkong, Gondang Buhun dan Tari Tani.
Bupati Sukabumi H. Asep Japar mengatakan, keberlangsungan Seren Taun hingga generasi ke-658 merupakan bukti keteguhan dan kecintaan masyarakat adat dalam menjaga warisan budaya.
“Pelaksanaan Seren Taun ke-658 ini merupakan bukti keteguhan, konsistensi, dan kecintaan masyarakat adat dalam melestarikan warisan budaya,” ujar Asep Japar.
Menurutnya, pelestarian adat tidak hanya berkaitan dengan kebudayaan, tetapi juga memiliki nilai penting bagi ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat.
Pemkab Sukabumi, kata Asep, terus mendorong pengakuan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) bagi Kasepuhan Gelar Alam sekaligus mendukung pengembangan potensi kawasan tersebut sebagai destinasi wisata budaya.
“Pemkab Sukabumi berkomitmen mendukung pelestarian adat serta pengembangan potensi kawasan ini sebagai destinasi wisata budaya unggulan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Adat Kasepuhan Gelar Alam, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Seren Taun ke-658.
“Alhamdulillah, penyelenggaraan Seren Taun berjalan lancar,” ujarnya.
Bagi Disbudpora Kabupaten Sukabumi, keberlanjutan Seren Taun menjadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan warisan budaya tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Tradisi tersebut harus tetap hidup, dipahami dan diwariskan, sehingga generasi mendatang dapat mengenal sekaligus menjaga identitas budaya daerahnya.
Yudi Mulyadi menambahkan, sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat adat dan berbagai unsur terkait menjadi kunci agar pelestarian budaya dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Budaya akan tetap kuat apabila masyarakatnya ikut menjaga dan generasi mudanya mau mengenal serta meneruskannya. Ini yang harus kita rawat bersama,” pungkas Yudi.





