Sukabumi | Matanusa.net — Tradisi adat Seren Taun kembali digelar khidmat di Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, pada Minggu (13/7/2025). Upacara adat yang telah berjalan selama 446 tahun ini bukan hanya menjadi wujud syukur masyarakat adat atas hasil panen, tetapi juga simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan budaya yang diwariskan lintas generasi.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Sukabumi, Ir. Toha Wildan Athoilah, hadir dalam acara tersebut mewakili pemerintah daerah. Dalam sambutannya, Toha Wildan menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi adat seperti Seren Taun sangat relevan untuk diterapkan dalam tata kelola keuangan dan keberlanjutan aset desa.
“Tradisi ini mengajarkan kita tentang disiplin, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Nilai itu pula yang menjadi prinsip dasar dalam pengelolaan keuangan dan aset pemerintah daerah,” ujarnya.
Toha Wildan mengaku terkesan dengan praktik masyarakat adat yang mampu menyimpan cadangan padi di leuit hingga berusia puluhan tahun. Hal itu menunjukkan perencanaan yang matang dalam pengelolaan sumber daya untuk menghadapi masa depan.
“Leuit ini adalah simbol manajemen aset yang sangat baik. Ada kesadaran kolektif masyarakat untuk merawat, mencatat, menyimpan, dan mendistribusikan hasil panen dengan tertib dan bertanggung jawab. Filosofi ini yang juga kami terapkan di BPKAD dalam mengelola aset daerah secara transparan dan berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan komitmen BPKAD untuk terus bersinergi dalam mendukung pembangunan di wilayah adat, baik melalui penguatan anggaran, optimalisasi aset daerah untuk kesejahteraan masyarakat, maupun pembinaan tata kelola keuangan desa.
“Kampung adat seperti Kasepuhan Sinar Resmi adalah bagian penting dari identitas Sukabumi. Tugas kita menjaga aset budaya ini tetap lestari sambil terus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” imbuhnya.
Seren Taun kali ini diawali dengan prosesi Ngampih Pare ka Leuit, yakni memasukkan ikat padi hasil panen ke dalam lumbung adat Si Jimat. Prosesi yang dipimpin Sesepuh Adat Abah Asep Nugraha ini dilengkapi berbagai atraksi seni budaya khas Sunda, seperti dogdog lojor, gondang buhun, tari tani, rengkong, hingga karya seni para incu putu (generasi muda adat).
Abah Asep berharap dukungan pemerintah untuk kelestarian tradisi adat terus berlanjut. Ia menyebut Seren Taun adalah wujud nyata keseimbangan antara kebutuhan spiritual, sosial, dan ekonomi masyarakat adat.
“Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tapi juga doa dan komitmen untuk menjaga warisan leluhur,” pungkasnya.
Dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, Seren Taun tahun ini kembali menjadi pengingat pentingnya tata kelola yang bijak dalam menjaga keberlangsungan aset budaya, aset alam, dan aset ekonomi masyarakat desa.





