Integrasikan Petani hingga SPPG, Guru Besar ITN Malang Rancang DHANUSA

Foto: Dok. ITN Malang.

Malang | Matanusa.net – Guru Besar Teknik dan Manajemen Industri Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Prof. Dr. Ir. Julianus Hutabarat, M.S.I.E., menggagas sebuah grand design ekosistem pangan terintegrasi untuk mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Gagasan tersebut diberi nama DHANUSA dengan jargon “Dari Lahan untuk Indonesia”. Platform ini dirancang sebagai sistem terintegrasi yang menghubungkan rantai pasok pangan dari sektor hulu hingga hilir, mulai dari petani, peternak dan nelayan, koperasi, UMKM, hub logistik, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Prof. Julianus Hutabarat atau yang akrab disapa Prof. Jul menjelaskan, DHANUSA tidak sekadar dirancang sebagai marketplace, tetapi sebagai MBG Integrated Food Supply & Market System yang mengintegrasikan produksi, distribusi, transaksi, hingga pemantauan kebutuhan pangan.

“Platform ini bertujuan menghubungkan petani, koperasi, UMKM, hub logistik, SPPG, dan masyarakat dalam satu ekosistem pangan Indonesia yang cerdas, transparan, dan berkelanjutan. DHANUSA adalah jawaban agar program MBG benar-benar menggerakkan ekonomi lokal,” jelas Prof. Jul, Kamis (1/10/2026).

Dalam rancangan tersebut, ekosistem DHANUSA dibangun melalui enam pilar utama. Pilar pertama adalah produksi atau sektor hulu, yang melibatkan petani, peternak dan nelayan. Tahap ini mencakup pembinaan produksi, pendataan lahan, prediksi panen, penetapan standar kualitas, hingga membuka akses pembiayaan bagi produsen.

Pilar kedua yakni agregasi, yang melibatkan Koperasi Desa Merah Putih, UMKM dan pengepul lokal sebagai agregator. Mereka berperan mengumpulkan hasil produksi, melakukan grading dan sortir, penyimpanan sementara, serta mengikat kontrak pasokan.

Selanjutnya terdapat hub dan logistik yang menjadi infrastruktur pendukung melalui Supply Hub, cold storage dan armada transportasi. Sistem tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi biaya logistik sekaligus memungkinkan pelacakan distribusi secara real-time menuju SPPG.

Pilar keempat adalah Marketplace DHANUSA sebagai ruang digital yang mempertemukan kebutuhan dan ketersediaan pangan. Sistem ini mencakup transaksi, kontrak jadwal pengiriman, pemantauan harga dinamis serta integrasi data secara nasional.

Pada sektor hilir, SPPG menjadi pembeli bahan pangan yang memenuhi standar gizi dan keamanan. Bahan tersebut kemudian diolah menjadi makanan untuk disalurkan kepada sekolah maupun komunitas penerima manfaat MBG.

Sementara itu, pilar terakhir adalah masyarakat, khususnya anak-anak penerima program MBG. Ekosistem tersebut diharapkan tidak hanya mendukung pemenuhan gizi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Didukung Sistem Digital dan AI

Prof. Jul juga merancang DHANUSA dengan dukungan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk menghadapi dinamika harga serta perubahan pasokan pangan.

Salah satunya melalui Dhanusa AI yang dirancang untuk membantu memprediksi produksi dan kebutuhan pangan. Kemudian terdapat Dhanusa Control Tower yang berfungsi memantau pergerakan harga dan distribusi logistik selama 24 jam.

Untuk mendukung transaksi, DHANUSA juga dilengkapi Dhanusa Pay yang dirancang mempercepat pembayaran dengan skema T+0/T+1. Sistem ini diharapkan dapat membantu menjaga arus kas petani dan agregator.

Selain itu, terdapat Dhanusa Insight berupa dasbor data nasional, Dhanusa Care untuk pemberdayaan ekonomi hijau, serta Dhanusa Connect sebagai sarana kolaborasi lintas sektor.

Menurut Prof. Jul, integrasi tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi seluruh mata rantai pangan. Petani mendapatkan akses pasar dan kepastian penyerapan, koperasi serta UMKM memperoleh peluang pasar yang lebih luas, sementara distribusi pangan dapat berlangsung lebih efisien dan terpantau.

Di sisi pemerintah, sistem data secara real-time juga diharapkan dapat mendukung perumusan kebijakan pangan yang lebih tepat berdasarkan kondisi produksi, kebutuhan, harga dan distribusi.

“Kehadiran DHANUSA diharapkan dapat diadopsi oleh pemerintah sebagai grand design ketahanan pangan hari ini dan generasi esok,” pungkas Prof. Jul.